Berita Terkini

Jan 28, 2012

Petani Bermitra dengan Bakteri

Gede Ngurah Wididana memulai langkahnya sebagai petani sejak ia memilih Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Bali. Ketika tamat pada 1985, Wididana memutuskan tak mencari pekerjaan.

Pria kelahiran Busung Biu, Buleleng, Bali, 9 Agustus 1961 ini memilih mengabdikan ilmunya di sawah, alias menjadi petani. Dia menyewa tanah seluas 2 hektare di lereng Gunung Batur tepatnya di tepi Danau Batur, tak jauh dari kawasan wisata Kintamani.

Di daerah yang dingin dan tak terjamah listrik itu dia menanam aneka sayuran. Kendati bergelut dengan tanah dan sayuran, Wididana tak terisolasi dari kegiatan ilmiah. Ia menggunakan waktu luangnya dengan bertandang ke Balai Seni Toyabungkah milik Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang tak jauh dari kebun sayurnya.

Ia kemudian ditawari bergabung di lembaga itu sebagai staf laboratorium lapangan Fakultas Pertanian Universitas Nasional (Unas) yang terafiliasi dengan Balai Seni Toyabungkah. Wididana kemudian pindah ke Jakarta, meninggalkan kebunnya yang baru setahun dikelola.

Beasiswa

Setahun kemudian ia mendapat beasiswa dari Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang. Di 'Negeri Sakura', ia mendapat mentor Prof Dr Teruo Higa, penemu teknologi effective microorganism (EM).

"Teknologi EM baru ditemukan pada 1980 untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia di bidang pertanian dan menjawab masalah kesehatan yang ditimbulkannya," kata Wididana.

Ketika kembali ke Jakarta pada 1990, Wididana yang bergelar master of agriculture bidang hortikultura menjadi dosen dan kepala laboratorium Fakultas Pertanian Unas. Dia menjadi orang Indonesia pertama yang memperkenalkan teknologi EM.

Di Unas, ia bertahan empat tahun. Pada 1994, Wididana memutuskan kembali ke Desa Bengkel, Busung Biu, Buleleng. Di tanah kelahirannya, ia berkonsentrasi membesarkan PT Songgolangit Persada. Perusahaan ini memasarkan pupuk organik berbahan baku sampah rumah tangga dengan menggunakan teknologi EM.

"Saya juga mendirikan Yayasan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) yang dilengkapi dengan kebun 7 hektare untuk menerapkan teknologi EM. Lahan ini ditanami 135 jenis tanaman obat dan dijalankan dengan metode EM," kata Wididana.

Para petani di sekitar, yang terbiasa menggunakan bahan kimia untuk mendongkrak hasil panen, ogah mencobanya. Adanya penolakan dari petani di kampung halamannya itu tidak membuat ia patah semangat.

Ia melakukan penyuluhan dan percobaan di kebun percontohan, baik di lahan milik petani maupun perusahaannya. Para petani di desa berpenduduk sekitar 1.500 itu kemudian mengakui keunggulan pupuk organik produksi Wididana. Berawal dari Desa Bengkel, produknya kemudian dikenal luas para petani Bali.

"Saya kemudian memproduksi pupuk ini secara massal. Pada 2000, dengan modal Rp20 juta dibantu lima karyawan, saya mendirikan pabrik pupuk Bokashi dengan teknologi EM di Desa Bengkel, Buleleng. Produk pertama, pupuk organik Bokashi," kata Wididana.

Pupuk produksi Wididana kini dipasarkan di seluruh provinsi di Indonesia serta 148 negara. "Pertanian organik kini marak, seiring dengan kesadaran atas dampak negatif bahan kimia serta kelangkaan pupuk dan pestisida kimia. Banyak petani berbondong-bondong menerapkan sistem organik," kata Wididana.

Pelatihan

Pupuk organik Bokashi produksi Wididana merebut perhatian banyak kalangan. Tak hanya pengguna, masyarakat umum juga beberapa instansi ingin belajar langsung tentang pembuatan pupuk maupun pengaplikasiannya.

"Indonesia saat ini sudah menjadi negara yang memproduksi EM terbesar di kawasan Asia Pasifik. Tidak mengherankan bila teknologi yang ramah lingkungan ini sudah dikenal dan dipraktikkan secara luas oleh petani, peternak, petambak, pengusaha, maupun pejabat sipil dan militer," kata Wididana.

Kini, pabrik Wididana menjadi lokasi produksi EM terbesar di Indonesia. “Sudah selayaknya industri ini ada di desa karena berhubungan erat dengan aplikasinya, bahan bakunya, tenaga kerjanya, kecukupan lahan, dan sebagainya. Lagi pula membangun bangsa itu harus dimulai dari desa. Bila semua desa itu makmur, negara ini akan makmur," papar Wididana.

Kini Wididana mulai memperkenalkan teknologi ini dalam berbagai ajang seminar. Ia pun mendirikan Pusat Informasi EM Yayasan Indonesian Kyusei Nature Farming Societies (IKNFS).

"Saya ingin memberi bukti bahwa pengembangan dunia pertanian di Indonesia sudah seharusnya menerima EM sebagai teknologi alternatif murah, mudah, dan ramah lingkungan," kata Wididana.

Saat ini kapasitas produksi EM di Desa Bengkel mencapai 100 ribu kiloliter per bulan untuk memenuhi pesanan dari berbagai provinsi dan negara. Dalam bulan-bulan tertentu, pabrik yang dipayungi Yayasan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) ini bahkan kewalahan melayani pesanan.